Kamis, 26 Juli 2012

novel sekali peristiwa di Banten selatan



SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN
( Pramoedya Ananta Toer )

Pada awalnya novel ini di buat oleh pramoedya saat beliau bekunjung ke daerah Banten selatan, disana Pram melihat dan heran atas daerahnya yang subur, kekayaan alam yang melimpah, cuacanya yang bagus, sejuk, akan tetapi rakyat-rakyatnya banyak yang kelaparan, banyak penindasan, pembunuhan dan hal-hal yang keji lainnya karena ulah DI ( Darul Islam ).
Oleh karena itu, hasil dari kunjungan Pram atau reportase yang singkatnya ke daerah Banten selatan terciptalah sebuah novel yag di tulisnya yang berjudul “ sekali peristiwa di Banten selatan”.
            Novel ini diperankan oleh tokoh Ranta, seorang yang mempunyai semangat jiwa persatuan dan kesatuan yang kukuh dan penuh kesabaran.
Ranta adalah penduduk di desa Banten Selatan yang miskin. Untuk makan saja, dia terpaksa harus mencuri bibit karet meskipu bukan kehendak dirinya sendiri, akan tetapi atas perintah Juragan Musa.
Juragan Musa adalah seorang yang terpandang di desa itu. Dia selalu menjinjing aktentas dan memakai tongkat kemana pun ia pergi, dan dia sebenarnya orang Darul Islam. Saat itu keadaan di desa ini sangat kacau. Orang-orang yang licik sifatnya seperti binatang buas. Ia selalu memangsa penduduk yang miskin. Penduduk yang miskin banyak yang dibunuhi.
Juragan Musa adalah orang kaya di desa itu. Tetapi hasil kekayaannya itu adalah hasil dari mencuri. Watak pada tokoh Juragan Musa ini adalah seorang yang licik. Juragan Musa selalu menyuruh Ranta untuk mencuri bibit karet di hutan akan tetapi Ranta tidak pernah di bayarnya malah yang di dapat oleh Ranta adalah  babak belur di hajar oleh penjaga onderneming karena ketauan mencuri bibit karet.
Juragan Musa tidak  mau mencuri sendiri karena dia selalu ingin dipandang baik oleh penduduk desa itu.
            Ranta yang penuh kesabaran  pada akhirnya tidak suka lagi dimanfaatkan oleh Juragan Musa untuk mencuri bibit karet.
Pada suatu ketika Juragan Musa datang ke rumah Ranta untuik menyuruhnya mencuri kembali, akan tetapi Ranta mencoba melawannya, muka Ranta penuh dengan kemarahan, tanganya mengepal, langkah demi langkah juragan Musapun  mundur, ternyata Juragan Musa ketakutan dan berlari dan tanpa ia sadari aktentas dan tongkatnya terjatuh di tanah depan rumahnya Ranta.
Hingga kemudian juragan Musa datang kembali bersama orang-orangnya untuk menemui Ranta di rumahnya, akan tetapi Ranta sudah pergi bersama Ireng istrinya dan ketiga orang yang pernah menginap di depan rumahnya untuk melaporkan juragan Musa kepada komandan, akhirnya rumah Ranta yang menjadi pelampiasan kekesalan juragan Musa telah habis di bakarnya.
Juragan Musa pun pulang dengan keadaan yang luar biasa, kerapiannya yang biasa hilang, jasnya tidak lagi terkancing rapih demikian juga keyakinan dirinya. Pada wajah juragan Musa tergambar kegugupan, ketakutan dan kekuatiran. Kekhawatiran yang dialaminya ternyata benar-benar terjadi, Pa komandan datang bersama prajuritnya untuk menangkap juragan Musa, awalnya seribu alasan juragan Musa keluarkan, akan tetapi hal itu percuma.
 Akhirnya Juragan Musa ditangkap oleh prajurit-prajurit suruhan Pak Komandan. Setelah itu, Ranta diangkat sebagai Pak Lurah.
Dengan diangkatnya sebagai lurah ini, Ranta berniat untuk menghapus segala kejahatan dan kekacauan yang menimpa desanya. Dia bekerjasama dan gotong royong dengan prajurit-prajurit untuk menghadapi suatu perlawanan terhadap orang-orang yang licik itu.
            Dengan paduan persatuan dan semangat gotong royong itulah akhirnya keadaan desa ini menjadi damai dan sejahtera.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar